Minggu, 14 Agustus 2016

IlmuKeperawatan:Artrtitis Pirai (Gout )



TUGAS KMB III
ARTRITIS PIRAI (GOUT)

OLEH :  KELOMPOK  III
1.      CINTYA P. RIWU
2.      CINTYA W J. THINE
3.      DELSY F D. DETHAN
4.      EMILYA S.KELLEN
5.      INGGIT . ALNABE
6.      IVANSIUS .TENGA
7.      KRISTRISON . KAELUSU
8.      LINDA P.Chr NUBAN
9.      MARIANCE . DJOLAWANG
10.  NUANTI M.TALOIM
11.  SARISMA N. WABANG
12.  THERESIA N. MBATU
13.  VERRA . MUTISANNY

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NUSANTARA
KUPANG
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................................i
BAB 1. PENDAHULUAN..............................................................................................ii
            A.LATAR BELAKANG ....................................................................................ii
            B.TUJUAN .........................................................................................................iii
BAB II.ISI
            A.DEFENISI ........................................................................................................1
            B.ETIOLOGI .......................................................................................................4
            C. PATOFISIOLOGI..........................................................................................4
            D.TANDA DAN GEJALA..................................................................................5
            E.PEMERIKSAAN PENUNJANG /DIAGNOSTIK .......................................6
            F.PENATALAKSANAAN .................................................................................6
            G.KOMPLIKASI ................................................................................................7
            H.ASUHAN KEPERAWATAN .........................................................................9
BAB III. PENUTUP
A. KESIMPULAN……………………………………………………………….13
B.  SARAN ……………………………………………………………………….13






KATA PENGANTAR
Pertama-pertama, Kami mengucap Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas bimbingan dan penyertaan serta berkat dan rahmat yang telah diberikan kepada Kami sehingga Kami KELOMPOK 3 dapat menyelesaikan Tugas Makalah Keperawatan Medikal Bedah III yang berjudul : “ASKEP ARTRITIS PIRAI (GOUT), dengan baik. Kelompok Kami menyadari bahwa tugas yang Kami buat belum sepenuhnya sempurna dan tak luput dari kekurangan. Oleh karena  itu, kami senantiasa mengharapkan kritikan,masukan,dan saran dari para pembaca khususnya dari Dosen  Mata Kuliah KMB III ini agar dapat menyempurnakan dan menutupi kekurangan.

                                                                                    penyusun


















BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Arthritis pirai (gout) adalah penyakit yang sering ditemukan dan tersebar diseluruh dunia. Artitis pirai merupakan kelompok penyakit heterogen sebagai akibat deposisi Kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat di dalam ekstraseluler. Manifestasi klinis deposisi urat meliputi artitis gout akut, akumulasi kristal pada jaringan yang merusak tulang, batu asam urat dan yang jarang adalah gagal ginjal. Gangguan metabolisme yang mendasarkan gout adalah hiperurisemia yang didefinisikan sebagai peninggian kadar urat lebih dari 7,0 ml/dl dan 6,0 mg/dl. ( Edward Stefanus, 2010 )
      Gout merupakan penyakit dominan pada pria dewasa. Sebagai mana yang disampaikan oleh Hipocrates bahwa gout jarang pada pria sebelum masa remaja sedangkan pada wanita jarang sebelum menopause. Pada tahun 1986 dilaporkan prevalensi gout di Amerika Serikat adalah 13,6/1000 pria dan 6,4/1000 perempuan. Prevalensi gout bertambah dengan meningkatnya taraf hidup. Prevalensi diantara pria African American lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok pria Caucasian. ( Edward Stefanus, 2010 )
Di Indonesia belum banyak publikasi epidemiologi tentang artitis pirai (AP). Pada tahun 1935 seorang dokter kebangsaan belanda bernama Van der Horst telah melaporkan 15 pasien artitis pirai dengan kecacatan dari suatu daerah di Jawa Tengah. Penilaian lain mendapatkan bahwa  pasien gout yang berobat rata-rata sudah mengidap penyakit selama lebih dari 5 tahun. Hal ini mungkin disebabkan banyak pasien gout yang mengobati sendiri. Satu study yang lama di Massachusetts mendapat lebih dari 1% dari populasi dengan kadar asam urat kurang dari 7 mg/100ml pernah mendapat serangan artitis gout akut.
      Gejala gout disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu, dilihat dari penyebabnya, penyakit ini termasuk dalam kelainan metabolik. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetik asam urat yaitu hiperuresemia.
      Untuk mengatasi penyakit gout ( arttritis piarai ) maka dilakukan pengobatan  secara dini agar tidak terjadi kerusakan sendi atau komplikasi lain misalnya pada ginjal. Pengobatan arthritis gout akan bertujuan untuk menghilangkan keluhan nyeri sendi dan peradangan dengan obat-obatan selain itu kombinasi pengistirahatan sendi dan terapi makanan/diet dan Pengistirahatan sendi meliputi pasien harus disuruh untuk meninggikan bagian yang sakit untuk menghindari penahanan beban dan tekanan yang berasal dari alas tempat tidur dan memberikan kompres dingin untuk mengurangi rasa sakit. ( sumber :Edward Stefanus, 2010 )

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
a.   Agar mahasiswa mampu mengembangkan pola pikir secara ilmiah.
b.   Agar mahasiswa/i memahami asuhan keperawatan pada pasien Gout melalui proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai evaluasi.
2.      Tujuan Khusus
Agar mahasiswa/i memahami :
a.    Agar mahasiswa mampu memahami pengertian Gout.
b.   Agar mahasiswa mampu memahami etiologi Gout.
c.    Agar mahasiswa mampu memahami patofisiologi Gout
d.   Agar mahasiswa mampu memahami manifestasi klinis dari Gout.
e.    Agar mahasiswa mampu memahami pemeriksaan diagnostik Gout.
f.    Agar mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan Gout.
g.    Agar mahasiswa mampu memahami komplikasi Gout
h.   Agar mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien Gout mulai pengkajian sampai evaluasi.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Berikut ini pengertian Gout menurut beberapa ahli, diantaranya:
§  Artritis pirai (Gout ) adalah Kelompok penyakit heterogen sebagai akibat deposisi kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat didalam cairan ekstraseluler. ( Edward Stefanus, 2010 )
§  Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang berlangsung lama (asam urat serum meningkat) disebabkn karena penumpukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal. ( Misnadiarly, 2009
§  Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek genetic pada metabolisme purin atau hiperuricemia (Brunner & Suddarth, 2001 : 1810 ).
Dari ketiga pengertian Gout menurut para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa Gout Merupakan Kelompok penyakit heterogen sebagai akibat deposisi kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat didalam cairan ekstraseluler atau suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang berlangsung lama (asam urat serum meningkat) disebabkn karena penumpukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal. (Sumber :Aru W. Sudoyo, dkk, 2001, hal 281)
Klasifikasi :
Gout diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
1.      Gout Primer
Merupakan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebih atau akibat penurunan ekresi asam urat.

2.      Gout Sekunder
Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebih atau ekresi asam urat yang bekurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
(Sumber :Arif Mansjoer, dkk, 2001, hal, 542 )


B.     Etiologi
Gejala gout disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu, dilihat dari penyebabnya, penyakit ini termasuk dalam kelainan metabolik. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetik asam urat yaitu hiperuresemia. Hiperuresemia terjadi karena:
1.     Pembentukan asam urat berlebihan
2.      Kurangnya pengeluaran asam urat melalui ginjal.
3.      Perombakan dalam usus yang berkurang.
( Sumber : Arif mansjoer, dkk 2001, hal 542-543)

C.     Patofisiologi
Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan berlebihan atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat adalah produk akhir metabolisme purin. Secara normal, metabolisme purin menjadi asam urat dapat diterangkan sebagai berikut:
  Sintesis purin melibatkan dua jalur, yaitu jalur de novo dan jalur penghematan (salvage pathway).
1.   Jalur de novo
   melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui prekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribosa-5-fosfat, yang diubah melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat, asam guanilat, asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian mekanisme yang kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat reaksi yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan amidofosforibosiltransferase (amido-PRT). Terdapat suatu mekanisme inhibisi umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk, yang fungsinya untuk mencegah pembentukan yang berlebihan.
2.  Jalur penghematan ( salvage pathway )
adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui basa purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur ini tidak melalui zat-zat perantara seperti pada jalur de novo. Basa purin bebas (adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk membentuk prekursor nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua enzim: hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT) dan adenin fosforibosiltransferase (APRT). Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi secara bebas oleh glomerulus dan diresorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian kecil asam urat yang diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron distal dan dikeluarkan melalui urin.
        Pada penyakit gout-arthritis, terdapat gangguan kesetimbangan                             metabolisme   (pembentukan dan ekskresi) dari asam urat tersebut,               meliputi:
1.    Penurunan ekskresi  asam urat secara idiopatik.
2.    Penurunan eksreksi asam urat sekunder, misalnya karena gagal                  ginjal
3.   Peningkatan produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh tumor.
4.   Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin.
Peningkatan produksi atau hambatan ekskresi akan meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh. Asam urat ini merupakan suatu zat yang kelarutannya sangat rendah sehingga cenderung membentuk kristal. Penimbunan asam urat paling banyak terdapat di sendi dalam bentuk kristal mononatrium urat. ( sumber : Sylvia A,Price & Lorraine M. Wilson, 2002, Hal 1403-1405 )
D.    Manifestasi Klinik
Gejala awal dari artritis gout adalah panas, kemerahan dan pembengkakan pada  sendi yang tipikal dan tiba-tiba. Persendian yang sering terkena adalah persendian kecil pada basis dari ibu jari kaki. Beberapa sendi lain yang dapat terkena ialah pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, jari tangan, dan siku. Pada serangan akut penderita gout dapat menimbulkan gejala demam dan nyeri hebat yang biasanya bertahan berjam-jam sampai seharian, dengan atau tanpa pengobatan. Seiring berjalannya waktu serangan artritis gout akan timbul lebih sering dan lebih lama.
                     Secara klinis ditandai dengan adnya artritis,tofi dan batu ginjal. Yang penting diketahui bahwa asam urat sendiri tidak akan mengakibatkan apa-apa. Yang menimbulkan rasa sakit adalah terbentuk dan mengendapnya kristal monosodium urat. Pengendapannya dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Oleh sebab itu, sering terbentuk tofi pada daerah-daerah telinga,siku,lutut,dorsum pedis,dekat tendo Achilles pada metatarsofalangeal digiti 1 dan sebagainya. Pada telinga misalnya karena permukaannya yang lebar dan tipis serta mudah tertiup angin,kristal-kristal tersebut mudah mengendap dan menjadi tofi. Demikian pula di dorsum pedis,kalkaneus karena sering tertekan oleh sepatu. Tofi itu sendiri terdiri dari kristal-kristal urat yang dikelilingi oleh benda-benda asing yang meradang termasuk sel-sel raksasa. Serangan sering kali terjadi pada malam hari. Biasanya sehari sebelumnya pasien tampak segar bugar tanpa keluhan. Tiba-tiba tengah malam terbangun oleh rasa sakit yang hebat sekali. Daerah khas yang sering mendapat serangan adalah pangkal ibu jari sebelah dalam,disebut podagra. Bagian ini tampak membengkak, kemerahan dan nyeri ,nyeri sekali bila sentuh. Rasa nyeri berlangsung beberapa hari sampai satu minggu,lalu menghilang. Sedangkan tofi itu sendiri tidak sakit,tapi dapat merusak tulang. Sendi lutut juga merupakan tempat predileksi kedua untuk serangan ini. Tofi merupakan penimbunan asam urat yang dikelilingi reaksi radang pada sinovia,tulang rawan,bursa dan jaringan lunak. Sering timbul ditulang rawan telinga sebagai benjolan keras. Tofi ini merupakan manifestasi lanjut dari gout yang timbul 5-10 tahun setelah serangan artritis akut pertama.
Pada ginjal akan timbul sebagai berikut:
1. Mikrotrofi dapat terjadi di tubuli ginjal dan menimbulkan nefrosis
2. Nefrolitiasis karena endapan asam urat
3. Pielonefritis kronis
4. Tanda-tanda aterosklerosis dan hipertensi
Tidak jarang ditemukan pasien dengan kadar asam urat tinggi dalam darah tanpa adanya riwayat gout yang disebut hiperurisemia asimtomatik. Pasien demikian sebaiknya dianjurkan mengurangi kadar  asam uratnya karena menjadi faktor resiko dikemudian hari dan kemungkinan terbentuknya batu urat diginjal.
(Sumber : Arif Mansjoer,dkk, 2000, Hal 543)

E.     Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik pada penderita arthritis pirai antara lain:
a. Kadar asam urat serum meningkat.
b. Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat.
c. Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat.
d. Analisis cairan sinovial dari sendi terinflamasi atau tofi        menunjukan      kristal urat monosodium yang membuat diagnosis.
e. Sinar X sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan     perubahan sendi.
(sumber : Elizabeth J Corwin: 2009, hal 543 )

F.      Penatalaksanaan
1.      Penatalaksaan Medik
Pengobatan dilakukan secara dini agar tidak terjadi kerusakan sendi atau komplikasi lain misalnya pada ginjal. Pengobatan arthritis gout akan bertujuan untuk menghilangkan keluhan nyeri sendi dan peradangan dengan obat-obatan,antara lain:
a)      Kolkisin adalah suatu agen anti radang yang biasanya dipakai untuk mengobati serangan gout akut, dan untuk mencegah serangan gout Akut di kemudian hari.
b)      Fenilbutazon, suatu agen anti radang, dapat juga digunakan unluk mengobati artritis gout akut. Tetapi, karena fenilbutazon menimbulkan efek samping, maka kolkisin digunakan sebagai terapi pencegahan. Indometasin juga cukup efektif.
c)      Alopurinol dapat mengurangi pembentukan asam urat. Dosis 100-400 mg per hari dapat menurunkan kadar asam urat serum.
d)      Probenesid dan Sulfinpirazin merupakan agen urikosurik, artinya mereka dapat menghambat proses reabsorpsi urat oleh tubulus ginjal dan dengan dernikian meningkatkan ekskresi asam urat.
e)      Tindakan operasi
Melalui operasi dokter akan memecah kristal asam urat yang terkumpul di persendian dan akan mengeluarkannya dari tubuh. Ini merupakan alternatif terakhir yang dapat ditempuh guna menghilangkan nyeri akibat gout.
2.      Penatalaksanaan keperawatan
Penatalaksanaan keperawatan adalah kombinasi pengistirahatan sendi dan terapi makanan/diet.
Pengistirahatan sendi meliputi pasien harus disuruh untuk meninggikan bagian yang sakit untuk menghindari penahanan beban dan tekanan yang berasal dari alas tempat tidur dan memberikan kompres dingin untuk mengurangi rasa sakit.
Terapi makanan mencakup pembatasan makanan dengan kandungan purin yang tinggi, alkohol serta pengaturan berat badan.
Pola diet yang harus diperhatikan adalah :
1.   Golongan A ( 150 - 1000 mg purin/ 100g ) :
Hati,ginjal,otak,jantung, paru, lain-lain jerohan,udang,       remis,   kerang,   sardin, herring, ekstrak daging,ragi (tape), alkohol, makanan dalam kaleng
2.   Golongan B ( 50 - 100 mg purin/ 100g ) :
Ikan yang tidak termasuk gol.A,daging sapi, kacang-          kacangan kering, kembang kol, bayam,             asparagus,buncis,jamur,daun singkong, daun pepaya, kangkung
3.   Golongan C ( < 50mg purin/ 100g ) :
Keju, susu, telur, sayuran lain, buah-buahan
4.   Bahan makanan yang diperbolehkan :
Semua bahan makanan sumber karbohidrat, kecuali havermout (dalam jumlah terbatas)
Semua jenis buah-buahan dan Semua jenis minuman, kecuali yang mengandung alcohol.
5.   Bila kadarasam urat darah>7mg/dL dilarang           mengkonsumsi bahan makanan gol.A, sedangkan konsumsi             gol.B dibatasi
6.   Batasi konsumsi lemak
7.   Banyak minum air putih.
( Sumber :Arif Mansjoer, dkk, 2000, Hal 544-545)

G.    Komplikasi
Komplikasi yang muncul akibat arthritis pirai antara lain :
a.    Gout kronik bertophus
Merupakan serangan gout yang disertai benjolan-benjolan (tofi) di sekitar sendi yang sering meradang. Tofi adalah timbunan kristal monosodium urat di sekitar persendian seperti di tulang rawan sendi, sinovial, bursa atau tendon. Tofi bisa juga ditemukan di jaringan lunak dan otot jantung, katub mitral jantung, retina mata, pangkal tenggorokan.
b.    Nefropati gout kronik
Penyakit tersering yang ditimbulkan karena hiperurisemia. terjadi akibat dari pengendapan kristal asam urat dalam tubulus ginjal. Pada jaringan ginjal bisa terbentuk mikrotofi yang menyumbat dan merusak glomerulus.
c.    Nefrolitiasi asam urat (batu ginjal)
Terjadi pembentukan massa keras seperti batu di dalam ginjal, bisa menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu seperti kalsium, asam urat, sistin dan mineral struvit (campuran magnesium, ammonium, fosfat).
d.    Persendian menjadi di rusak hingga menyebabkan pincang
e.    Peradangan tulang, kerusakan ligament dan tendon
f.     Batu ginjal ( kencing batu ) serta gagal ginjal ( Emir Afif, 2010)





Konsep Asuhan keperawatan
A.       Pengkajian Keperawatan

1.    Identitas
2.    Keluhan Utama
Pada umumnya klien merasakan nyeri yang luar biasanya pada sendi ibu jari kaki (sendi lain).
   P (Provokatif)              : kaji penyebab nyeri
   Q (Quality / qualitas)   : kaji seberapa sering nyeri yang                                                                        dirasakan klien
         R (Region)                               : kaji bagian persendian yang terasa nyeri                                                       (biasanya pada pangkal ibu jari)
         S (Saverity)                  : Apakah mengganggu aktivitas motorik ?
         T (Time)                      : Kaji kapan keluhan nyeri dirasakan ?
3.      Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumulan data dilakukan sejak munculnya keluhan dan secara umum mencakup awal gejala dan bagaimana gejala tersebut berkembang.penting ditanyakan berapa lama pemakaian obat analgesic, allopurinol.
4.       Riwayat Penyakit Dahulu
                        Ada riwayat kelainan sendi atau tulang sebelumya dan
                                    Pasien pernah menjalani operasi seperti penggantian sendi.
5.       Riwayat Penyakit Keluarga
        Tanyakan apakah pernah ada anggota keluarga klien yang menderita penyakit yang sama seperti yang diderita klien sekarang ini.
6.       Pengkajian Psikososial dan Spiritual
         Psikologi          : apakah klien mengalami peningkatan stress
         Sosial               : Cen derung menarik diri dari lingkungan
         Spiritual           :Kaji apa agama pasien, bagaimana pasien menjalankan         ibadah menurut agamanya
7.    Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
-     Kebutuhan nutrisi
            1.  Makan   : kaji frekuensi, jenis, komposisi (pantangan        makanan kaya protein)
            2.  Minum  : kaji frekuensi, jenis (pantangan alkohol)
-     Kebutuhan eliminasi
            1.  BAK    : kaji frekuensi, jumlah, warna, bau
            2.  BAB    : kaji frekuensi, jumlah, warna, bau
-     Kebutuhan aktivitas
             Biasanya klien kurang / tidak dapat melaksanakan aktivitas sehari-   hari secara mandiri                akibat  nyeri dan pembengkakan.
            ( Elizabeth J Corwin: 2009 )
B.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah :
1.      Nyeri sendi b/d peradangan sendi, penimbunan Kristal pada membrane sinovia, tulang rawan artikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
2.      Hambatan mobilitas fisik b/d penurunan rentang gerak, kelamahan otot pada rentang gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan dan pembentukan panus.
3.      Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk kaki dan terbentuknya tofus.

C.     Intervensi Keperawatan
Diagnosa I : Nyeri sendi b/d peradangan sendi, penimbunan Kristal pada membrane sinovia, tulang rawan artikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
Tujuan Keperawatan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nyeri yang dirasakan klien berkurang
Dengan kriteria hasil :
-          Klien melaporkan penelusuran nyeri
-          Menunjukkan perilaku yang lebih rileks
-          Skala nyeri nyeri berkurang dari 0 – 1 atau teratasi.
Intervensi :
a.       Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri. Observasi kemajuan nyeri kedaerah yang baru. Kaji nyeri dengan skala 0 – 4.
Rasional : Kaji secara komperhensif tentang nyeri : lokasi, karakteristik dan onset, durasi, frekuensi, dan kualitas)
b.                               Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor pencetus.
Rasional :Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan
c.       Jelaskan dan bantu klien terkait dengan tindakan pereda nyeri non farmakologi dan non invasive.
Rasional :Gunakan komunikasi teurapeutik agar klien dapat mengekspresikan nyeri
d.       Ajarkan metode distraksi relaksasi selama nyeri akut.
      Rasional : dapat mengurangi nyeri.
e.      Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan hubungan dengan berapa lama nyeri akan berlangsung.
Rasional : anjurkan pasien untuk memonitor sendiri nyeri
f.      Hindarkan klien meminum alkohol, kafein dan diuretic.
Rasional : Kontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pasien terhadap nyeri
g.      Kolaborasi dengan dokter pemberian allopurinol.
Rasional : Berikan analgesik sesuai order

Diagnosa II: Hambatan mobilitas fisik b/d penurunan rentang gerak, kelamahan otot pada rentang gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan dan pembentukan panus.
Tujuan Keperawatan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya. Dengan kriteria hasil :
-          Klien ikut dalam program latihan
-          Tidak mengalami kontraktur sendi
-          Kekuatan otot bertambah
-         Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas dan mempertahankan koordinasi optimal.
Intervensi :
a.       Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan.
Rasional : Beri alat bantu jika pasien memerlukan untuk mobilisasi
b.      Ajarkan klien melakukan latihan room dan perawatan diri sesuai toleransi.
Rasional : Penggunaan pergerakan tubuh aktif atau pasif untuk mempertahankan atau memperbaiki fleksibilitas sendi
c.       Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
Rasional : Meningkatkan dan membantu berjalan untuk mempertahankan atau memperbaiki fungsi tubuh volunter dan autonom selama perawatan serta pemulihan dari sakit atau cidera.

Diagnosa III : Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk tubuh, tulang dan sendi.
Tujuan keperawatan : . Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam klien dapat meningkatkan percaya diri nya dan mulai menerima keadaan patologisnya.


Kriteria hasil :
-          Klien mampu mengatakan dan mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang terjadi
-          Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi.
-          Mengakui dan menggabungkan dalam konsep diri
Intervensi :
a.       Kaji perubahan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan
Rasional : Mengetahui keluhan klien dan mempermudah melakukan asuhan keperawatan selanjutnya.
b.       Tingkatkan kembali realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat
Rasional : Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dan perawat.
c.        Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan
Rasional : Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realitas.
d.      Anjurkan orang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan sebanyak mungkin hal untuk dirinya.
Rasional : Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping
e.                               Bersama klien mencari alternative koping yang positif.
Rasional : Mempertahankan komunikasi dan memberikakn dukungan terus menerus pada pasien dan keluarga
f.       Dukung perilaku atau usaha peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi.
      Rasional : Memberikan dukungan dan aktifitas rehabilitas.










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
      Gout Merupakan Kelompok penyakit heterogen sebagai akibat deposisi kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat didalam cairan ekstraseluler atau suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang berlangsung lama (asam urat serum meningkat) disebabkan karena penumpukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal.
B.     Saran
·         Bagi mahasiswa
Agar lebih mendalami tentang penerapan asuhan keperawatan pada pasien gout dengan pendekatan proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai evaluasi dan mendapat pengalaman yang nyata dalam merawat pasien dengan gout.
·         Diharapkan bagi mahasiswa agar membaca buku-buku sumber, makalah-makalah dan literatur yang berhubungan  dengan materi untuk meningkatkan pengetahuan.



  










DAFTAR PUSTAKA

·         Brunner dan Suddarth Edisi 8. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Vol. 3. Jakarta : EGC.
·         Mansjoer arif, Tryanti kuspuji, dkk, 2001. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN edisi ketiga , Jakarta : Media Aesculapius.
·         Sudoyo w. Aru, bambng setiyohadi, dkk, 2001. Ilmu Penyakit Dalam jilid II Edisi IV, Jakarta : Departemen ilmu penyakit dalam.
·         Price A. Sylvia, 2002, PATOFISIOLOGI Konsep klinis Proses-proses penyakit Vol. 2, Jakarta : EGC.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar