BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kebutuhan seksual
merupakan kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan dua orang individu
secara pribadi yang saling menghargai, memerhatikan, dan menyayangi sehingga
terjadi sebuah hubungan timbal balik antara dua individu
tersebut. Seks pada hakekatnya merupakan dorongan naluri alamiah
tentang kepuasan syahwat. Tetapi banyak kalangan yang secara
ringkas mengatakan bahwa seks itu adalah istilah lain dari Jenis
kelamin yang membedakan antara pria dan wanita. Jika kedua jenis seks
ini bersatu, maka disebut perilaku seks sedangkan perilaku seks dapat
diartikan sebagai suatu perbuatan untuk menyatakan cinta
dan menyatukan kehidupan secara intim. Ada pula yang mengatakan bahwa
seks merupakan hadiah untuk memenuhi atau memuaskan hasrat birahi
pihak lain. Akan tetapi sebagai manusia yangberagama, berbudaya, beradab
dan bermoral, Seks merupakan dorongan emosi cinta suci yang
dibutuhkan dalam angka mencapai kepuasan nurani dan memantapkan kelangsungan
keturunannya. Tegasnya, orang yang ingin mendapatkan cinta dan keturunan,
maka ia akan melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Seks yang
pada mulanya diidentikkan dengan cinta dan pernikahan, sekarang lebih
diasosiasikan dengan suka dan kencan.
Perilaku seksual adalah
perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan
wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan
oleh pasangan suami istri. Beberapa tahun terakhir ini, persepsi
masyarakat terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah seksual
telah mengalami perubahan yang drastis. Perilaku telah beranjak dari posisi
nilai moral menjadi budaya. Dengan kata lain, jika sebelumnya seks sarat dengan
kaidah moral, sekarang seks telah merambah ke segala penjuru kehidupan sebagai
gaya hidup yang nihil moralitas. Perilaku seks juga merupakan salah satu
kebutuhan pokok yang senantiasa mewarnai pola kehidupan manusia
dalam masyarakat. Perilaku seks sangat dipengaruhi oleh nilai
dan norma budaya yang berlaku dalam masyarakat. Setiap golongan
masyarakat memiliki persepsi dan batas kepentingan tersendiri
terhadap perilaku seks.
B.
Tujuan
1. Apa yang dimaksud dengan
penyimpangan seksual
2. Factor penyebab
penyimpangan seksual
3. Macam-macam penyimpangan
seksual
4. Akibat penyimpangan seksual
5. Contoh kasus penyimpangan seksual
6. Kesimpulan dari contoh
kasus peyimpangan seksual
7.
Saran dari contoh kasus penyimpangan seksual
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kebutuhan
seksual adalah Kebutuhan seksual merupakan kebutuhan
dasar manusia berupa ekspresi perasaan dua orang individu secara pribadi yang
saling menghargai, memerhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi sebuah
hubungan timbal balik antara dua individu tersebut.
Perilaku seksual adalah perilaku yang
melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang
telah mencapai pada tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan
suami istri.
Penyimpangan seksual adalah aktifitas seksual
yang tidak wajar dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan seksual, dengan cara
yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak
sewajarnya. Ketidakwajaran dalam
menyimpang hubungan seksual mencakup perilaku-perilaku yang diarahkan pada
pencapaian lewat relasi diluar hubungan kelamin heteroseksual, dengan jenis
kelamin yang sama, yang belum dewasa dan bertentangan dengan norma-norma
tingkah laku masyarakat yang diterima secara umum.
B. Factor yang dapat
menyebabkan terjadinya penyimpangan seksual
Penyebab terjadinya
kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu
kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetic tetapi masalah seksualitas
remaja timbul karena factor-faktor berikut ini :
1. Meningkatnya libido
seksualitas: Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja.
2. Tabu-larangan : Karena remaja (dan juga banyak
orang dewasa) pada umumnya tidak mau mengakui aktivitas seksualnya dan sulit
diajak berdiskusi tentang seks, terutama sebelum ia bersenggama untuk yang
pertama kalinya. Tabu-tabu ini jadinya mempersulit komunikasi. Sulitnya
komunikasi, khususnya dengan orang tua, pada akhirnya akan menyebabkan perilaku
seksual yang tidak diharapkan.
3. Kurangnya informasi
tentang seks: Pada umumnya, memasuki usia remaja tanpa pengetahuan yang memadai
tentang seks dan selama hubungan pacaran berlangsung pengetahuan itu bukan saja
tidak bertambah, akan tetapi malah bertambah dengan informasi-informasi yang
salah.
4.
Pergaulan yang makin
bebas: Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja, kiranya dengan
mudah bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari,.
b. Hubungan seksual yang pertama dialami oleh remaja
dipengarui oleh berbagai faktor yaitu:
1. Waktu /saat mengalami
pubertas. Saat itu mereka tidak pernah memahami tentang apa yang akan dialaminya.
2. Kontrol sosial kurang
tepat yaitu terlalu ketat atau terlalu longgar.
3. Frekuensi pertemuan dengan
pacarnya. Mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan pertemuan yang makin
sering tanpa kontrol yang baik sehingga hubungan akan makin mendalam.
4. Hubungan antar mereka
makin romantis.
5. Kondisi keluarga yang
tidak memungkinkan untuk mendidik anak-anak untuk memasuki masa remaja dengan
baik.
6. Kurangnya kontrol dari
orang tua. Orang tua terlalu sibuk sehingga perhatian terhadap anak kurang
baik.
7. Status ekonomi.
8. Tekanan dari teman sebaya.
Penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Peningkatan penggunaan obat
terlarang dan alkohol makin lama makin meningkat.
9. Mereka kehilangan kontrol
sebab tidak tahu batas-batasnya mana yang boleh dan mana tidak boleh.
10. Mereka merasa sudah
saatnya untuk melakukan aktifitas seksual sebab sudah merasa matang secara
fisik.
11. Adanya keinginan untuk
menunjukkan cinta pada pacarnya.
12. Penerimaan aktifitas
seksual pacarnya.
13. Sekedar menunjukkan
kegagahan dan kemampuan fisiknya.
C.Macam-macam penyimpangan
seksual
1.Homoseksual
Homoseksual merupakan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan.
2.Sadomasokisme
Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya. Sedangkan masokisme seksual merupakan kebalikan dari sadisme seksual. Seseorang dengan sengaja membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.
3.Ekshibisionisme
Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya dengan memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai dengan kehendaknya. Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan semakin terangsang.
4.Voyeurisme
Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia) berasal dari bahasa Prancis yakni vayeur yang artinya mengintip. Penderita kelainan ini akan memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang sedang telanjang, mandi atau bahkan berhubungan seksual.
5.Fetishisme
Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada penderita fetishisme, aktivitas seksualnya disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH (breast holder), celana dalam, kaos kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan hasrat atau dorongan seksual..
6. Pedophilia / Pedophil / Pedofilia / Pedofil
Adalah orang dewasa yang yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.
7.Bestially
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain sebagainya.
8.Incest
Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengna anak cowok
9.Necrophilia/Necrofil
Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah menjadi mayat / orang mati.
10.Zoophilia
Zoofilia adalah orang yang senang dan terangsang melihat hewan melakukan hubungan seks dengan hewan.
11.Sodomi
Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan.
12.Frotteurisme/Frotteuris
Yaitu suatu bentuk kelainan sexual di mana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik atau umum.
13.Gerontopilia
adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang pelaku jatuh cinta dan mencari kepuasan seksual kepada orang yang sudah berusia lanjut (nenek-nenek atau kakek-kakek).
D.Akibat
dari perilaku seksual menyimpang
- Akibat dari meningkatnya aktivitas seksual pada remaja yang tidak diimbangi dengan alat kontrasepsi diantaranya adalah kehamilan remaja atau pranikah sehingga banyak remaja yang melakukan tindakan aborsi (pengguguran kandungan) dengan cara meminum ramuan atau jamu, memijat peranakannya atau mencoba mengeluarkan janin dengan cara bantuan dukun atau meminum obat-obatan yang diberikan dokter atau bidan. Cara tersebut bisa mengakhibatkan perdarahan, infeksi sehingga kematian si calon ibu. Sedangkan pada janin mengalami kecacatan mental maupun fisikdalam masa pertumbuhannya (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, 2001).
- Salah satu akibat yang ditimbulkan dari aktivitas seksual yang tidak sehat adalah penyakit menular seksual (PMS). Penyakit ini disebut juga venereal, berasal dari kata venus, yaitu Dewi Cinta dari Romawi kuno. Penularan penyakit ini biasanya terjadi karena seringnya seseorang melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Bisa juga karena melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sebelumyan telah terjangkit salah satu penyakit ini. Penyakit seksual ini sangat berbahaya. Pengobatan untuk setiap jenis penyakit berbeda-beda, beberapa diantaranya tidak dapat disembuhkan (Dianawati, 2006).
- Sebagai konsekuensi logis dari perilaku seks menyimpang adalah munculnya berbagai penyakit kelamin (veneral diseases, VD), atau penyakit akibat hubungan seksual (sexually transmitted diseases, STD). Berbagai penyakit kelamin yang kini dikenal di dunia kedokteran adalah: sifilis, gonore, herpes simplex, limprogranuloma akuminata venerium, granuloma inguinale, trikomonas, kondiloma akuminata, dan AIDS.
- Dari berbagai penyakit itu yang paling terkenal, paling berbahaya dan paling banyak diderita oleh pelaku seks bebas (termasuk pelaku seks menyimpang seperti homoseks, seks anal, dan sebagainya) adalah: sifilis, gonore, herpes progenitalis dan AIDS (Junaedi, 2010).
1). Gonorea
- Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Sebutan lain penyakit ini adalah kencing nanah. Penyakit ini menyerang organ seks dan organ kemih. Selain itu, akan menyerang selaput lendir mulut, mata, anus, dan beberapa organ tubuh lainnya. Bakteri yang membawa penyakit ini. dinamakan Gonococcus.
2). Sifilis
- Sifilis dikenal juga dengan sebutan “Raja Singa”. Penyakit ini sangat berbahaya. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual atau penggunaan barang-barang dari seseorang yang tertular (seperti baju, handuk, dan jarum suntik). Penyebab timbulnya penyakit ini adalah adanya kuman Treponema pallidum.
3. Herpes
- Herpes termasuk jenis penyakit tua karena sudah ada sejak lama, ditularkan oleh bangsa yunani, romawi, dan louis XV. Herpes termasuk jenis penyakit biasa, disebabkan oleh virus harpes simpleks.
4). Klamidia
- Klamidia berasal dari kata chlamydia, sejenis organisme mikroskopik yang dapat menyebabkan infeksi pada leher rahim, rahim, saluran indung telur, dan saluran kencing. Gejala yang banyak dijumpai pada penderita penyakit ini adalah keluarnya cairan dari vagina yang berwarna kuning , disertai rasa panas seperti terbakar ketika kencing.
5). Candida
- Penyakit ini biasa juga disebut sebagai infeksi ragi. Sebenarnya, dalam vagina terdapat berjuta-juta ragi. Meskipun tidak akan menimbulkan masalah, karena ragi berkembang terlalu pesat, dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan infeksi.
6). Chancroid
- Chancroid adalah sejenis bakteri yang menyerang kulit kelamin dan menyebabkan luka kecil bernanah. Jika luka ini pecah, bakteri akan menjalar ke daerah pubik dan kelamin.
7). Granuloma inguinale
- Penyakit ini sama dengan chancroid, yaitu disebabkan oleh bakteri. Bagian yang terserang biasanya permukaan kulit penis, bibir vagina, klitoris, dan anus, akan berubah membentuk jaringan berisi cairan yang mengeluarkan bau tidak sedap.
8). Lymphogranuloma
venereum
- Penyakit ini biasa disingkat LGV, disebabkan oleh virus dan dapat mempengaruhi seluruh organ tubuh. Penyakit ini sangat berbahaya karena antibiotik tidak dapat menanggulanginya.
9). AIDS
- AIDS adalah sebuah singkatan dari “Acquired Immuno Deficiency” Syndrome. Artinya, suatu gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh seseorang.
10). HIV
- HIV adalah singkatan dari “Human Immunodeficiency Virus”, yaitu sejenis virus yang menyebabkan AIDS.
11). ARC
- ARC merupakan singkatan dari “AIDS Related Complex”, menyebabkan timbulnya pembekakan pada kalenjar di sekitar pangkal paha dan daerah lainnya.
12). Scabies
- Penyakit ini disebabkan oleh sejenis serangga yang disebut “mite”. Serangga tersebut dapat masuk melalui daerah kelamin dan dapat berkembangbiak secara cepat.
13). PID
- Merupakan singkatan dari “Pelvis Inflammatory Disease”, yaitu suatu penyakit infeksi sistem saluran reproduksi perempuan, seperti gonorea atau clamydia.
14). Trichomonas
infection
- Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang menyerang vagina perempuan dan menyebabkan terjadinya infeksi dengan mengeluarkan cairan busa disertai dengan rasa gatal dan panas pada vagina tersebut.
15). Venereal warts
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang alat kelamin
seseorang. Pada laki-laki, virus ni menyerang bagian kepala penis. Pada perempuan,
virus ini biasanya menyerang bibir vagina dan daerah sekitar anus (perineum)
(Dianawati, 2006).
E. Usaha-Usaha Pencegahan
Penyimpangan Seksual
a) Sikap dan
pengertian orang tua
Pencegahan
abnormalitas masturbasi sesungguhnya bias secara optimal diperankan oleh orang
tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap anaknya yang melakukan
masturbasi sangat penting. Di samping itu, orang tua perlu memperhatikan
kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di sekitar daerah genitalia mereka.
Orangb tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis
dan pornoaksi yang terpapar pada anak.
Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah
dosa dan pemberian hukuman hanya akan menyebabkan anak putus asa dan
menghentikan usaha untuk mencontohnya. Sedangkan pengawasan yang bersifat
terang-terangan akan menyebabkan sang anak lebih memusatkan perhatiannya pada
kebiasaan ini; dan kebiasaan ini bias jadi akan menetap.
Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan terus terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-perubahan fisiologik seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dn fenomena sexual secunder lainnya.
Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan utama. Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi kesempatan untuk melakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu. Masturbasi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang sunyi, sepi dan menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk mendapatkan kesempatan menyepi sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan tidak kesepian. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan masturbasi.
Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga diri anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari melihat, mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah anak-anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan kelebihan energi tubuhnya. Atau membiasakan mereka aktif dalam organisasi kepemudaan dan keolahragaan.
Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan terus terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-perubahan fisiologik seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dn fenomena sexual secunder lainnya.
Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan utama. Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi kesempatan untuk melakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu. Masturbasi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang sunyi, sepi dan menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk mendapatkan kesempatan menyepi sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan tidak kesepian. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan masturbasi.
Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga diri anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari melihat, mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah anak-anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan kelebihan energi tubuhnya. Atau membiasakan mereka aktif dalam organisasi kepemudaan dan keolahragaan.
b)
Pendidikan seks
Sex
education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan
masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang seharusnya
terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan sekolah
diberikan sex information dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-pelajaran
lainnya, dimana diberikan penjelasan-penjelasan seksual yang sederhana dan
informatif.
Pada
tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yag lebih bebas dan
dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan menguasai bidangnya.
Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya anak ketika sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap seks.
Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya anak ketika sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap seks.
D. Pengobatan
Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter, kecuali kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari, seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun psikosa.
Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter, kecuali kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari, seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun psikosa.
1) Farmakoterapi
1. Pengobatan dengan estrogen (eastration)
Estrogen dapat mengontrol
dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak
terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah.
Diberikan peroral. Efek samping tersering adalah ginecomasti.
terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah.
Diberikan peroral. Efek samping tersering adalah ginecomasti.
2. Pengobatan dengan neuroleptik
a. Phenothizine
Memperkecil dorongan sexual dan mengurangi kecemasan. Diberikan peroral.
b. Fluphenazine enanthate
Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan sexual lebih
dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat. Diberikan IM dosis 1cc 25
mg. Efektif untuk jangka waktu 2 pekan.
3. Pengobatan dengan transquilizer
Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi sexual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi adjuvant untuk pendekatan psikologik.
2) Psikoterapi
Psikoterapi pada kebiasaan
masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat
menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan
penderita. Menciptakan suasana dimana penderita dapat menumpahkan semua
masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi.
Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita pada kenyataan yag sebenarnya dari masturbasi.
Pad kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan memungkinkan dilakukan semacam interview sex education.
Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita
Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita pada kenyataan yag sebenarnya dari masturbasi.
Pad kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan memungkinkan dilakukan semacam interview sex education.
Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita
3)
Hypnoterapi
Self-hypnosis
(auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan masturbasi kompulsif,
yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita dengan anjuran-anjuran
mencegah masturbasi.
G. Contoh Kasus
Sebut saja si pelaku berinisial "S". S mulai menceritakan riwayat hidupnya sebagai seorang anak laki-laki yang ketika berumur 4 tahun ayahnya meninggal dunia dan selanjutnya ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Kehidupan masa kecil bersama nenek dan kakeknya cukup bahagia, S dapat mengikuti pendidikan formal dengan baik. Setelah lulus SMA, S pindah ke kota lain karena diterima di salah satu Fakultas Kedokteran Negeri di Sumatera dan akhirnya berhasil menjadi seorang dokter. Ketika di SMA banyak waktu dihabiskan untuk melakukan kegiatan-kegiatan di masjid atau surau seperti kawan-kawan sebayanya di sana. Meski telah menjadi seorang dokter, ada kenangan yang sulit dilupakan karena pada saat S banyak melakukan kegiatan di surau, ia memiliki kenalan yang sangat akrab yaitu seorang kakek yang banyak memberikan perhatian, bantuan, dorongan, kesenangan dan kepuasan bagi S sebagai seorang remaja. Pada saat S kuliah di kota lain hubungan tetap terjalin, tiap malam minggu ia pulang seperti remaja lain mengunjungi pacarnya. Namun pacar S ini lain dari yang lain yaitu seorang kakek yang ubanan, bersih dan ganteng, katanya. Apa yang dilakukan antara kakek dan remaja tersebut ternyata bercinta secara homoseksual. Hal itu dilakukan cukup lama sejak SMA kelas I sampai S lulus menjadi dokter, pada hal si kakek tersebut punya anak dan punya istri. Cara bercintanya juga sangat rapi karena tidak ada yang tahu, baik pihak keluarga kakek maupun keluarga S, termasuk kawan-kawan sebayanya. Rupanya apa yang dilakukan kedua insan berbeda usia dan sejenis tersebut membahagiakan kedua belah pihak, karena kedua belah pihak merasa sulit untuk berpisah. Untuk menjaga kelestarian hubungan antara keduanya, kakek menawarkan kepada S agar menikah dengan anak perempuannya bernama (K). S sudah cukup kenal dengan K walaupun merasa tidak cinta, seperti cintanya terhadap ayah K. Namun akhirnya S nikah dengan K karena ada udang dibalik batu agar tetap dekat dengan ayah K. Dalam kehidupan sebagai suami istri S menjalaninya biasa-biasa saja, namun hubungan dengan kakek juga tetap dijalankan, bahkan merasa lebih bebas karena satu rumah. Kadang-kadang ia bermesraan sama kakek yang sekarang adalah mertua, namun kadang-kadang bermesraan sama K sebagai istri. Dalam bathin S sering timbul perasaan bahwa cintanya terhadap istri cukup sebagai simbol status sosial, karena secara umum hal itu merupakan suatu yang wajar bahwa laki-laki berpasangan dengan wanita. Namun disisi lain S merasa sangat mencintai kakek dan merasa lebih bergairah dalam bercinta. Bahkan S merasa terangsang dengan istri bila habis bermesraan dengan kakek, entah bagaimana caranya. Keadaan itulah yang terus terbawa sampai saat ini. S merasa bergairah dengan istrinya apabila habis bercinta dengan si kakek.
Kehidupan memang tidak pernah akan berlanjut dengan mulus bagi S untuk bermesraan dengan dua orang, dimana satu sama lain tidak memperlihatkan kecumburuan dan kecurigaan dan dua-duanya memberi kepuasan pada dirinya. Setelah S dengan K memiliki anak pertama, si kakek meninggal dunia. S pada awalnya merasa shock karena pasangan yang sangat dicintainya telah tiada dan S kemudian mencurahkan perhatiannya kepada anak dan istrinya serta pekerjaannya sebagai pegawai negeri. Waktu berlalu dengan cepat, sampai akhirnya S ditawari untuk pindah ke Jakarta dan ia tentu saja merasa sangat senang karena dapat bekerja di pusat. Setelah berada di Jakarta S merasa senang jika mendapat tugas mendampingi tamu bule pria untuk keliling daerah. Menurut S umumnya orang bule senang diajak main cinta dengan dia, sehingga keinginan S untuk bertemu idamannya yaitu laki-laki, sudah cukup tua, rambutnya putih dan klimis, apalagi mau diajak bercinta semakin menggebu lagi. Ketika hal itu dapat dilakukan S maka ia merasa bahagia dan merasa bergairah untuk bercinta dengan istrinya. Selain itu hubungan S dengan istrinya tidak uring-uringan dan keduanya merasa bahagia, walaupun keadaan S mungkin tidak diketahui oleh istrinya.
Dalam kehidupan bermasyarakat perilaku S terlihat biasa-biasa saja namun sebagai seorang ahli medis ia mendapatkan kesulitan bila menemui pasien seperti yang diidamkannya yaitu pria cukup tua, rambut putih, penampilan bersih dan klimis. Setiap bertemu pasien seperti itu S langsung naksir dan amat tertarik. Kata S, secara naluri ia tahu apakah orang yang dihadapi (diperiksa) itu mau diajak bercinta atau tidak, sehingga hal itu menyebabkan konflik, antara tugas profesi dan dorongan nalurinya yang tidak pada tempatnya. Untuk menjaga profesinya itu S sangat hati-hati jangan sampai rahasia dirinya diketahui oleh para pasiennya. Dalam keadaan inilah S sering merasa terganggu ketenangannya sehingga di rumahpun ia mudah menjadi emosional dan uring-uringan. Keadaan seperti itu terus berlanjut sampai usianya berkepala lima. Dorongan ingin bertemu dengan idamannya sangat kuat. Saking kuatnya keinginan tersebut, suatu saat S mencoba mendekati waria di pinggir jalan di sekitar sebuah taman di Jakarta pada saat waria mejeng di sana. Begitu mudah berkenalan dengan waria bagi S, namun S menjadi terkejut dan takut karena perilaku waria ternyata lain dengan yang di bayangkan S. Kata S waria yang ditemuinya ternyata lebih feminin dari wanita, sehingga ia bingung bagaimana cara merayunya untuk bercinta, sehingga S teringat pada istrinya dan spontan meninggalkan waria tersebut.
H.
Kesimpulan
Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual
seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya.
Penyebab yang sering terjadi adalah sikap dan pengertian orang tua terhadap
anak dalam menjelaskan hubungan seksual disaat anak-anak sudah mengalami masa
purbetas, sehingga anak-anak tidak melakukan hal-hal seksual yang tidak
sewajarnya, sikap orang tua tidak membimbing anak-anak dalam hal seksual
akibatnya anak-anak dapat melakukan hubungan seksual dengan umur yang belum
bisa melakukan hubungan seksual tetapi anak-anak sudah melakukan hubungan
seksual dan pergaulan bebas yang sering
terjadi pada anak-anak sehingga anak-anak tidak memahami tentang hubungan
seksual yang seharusnya dilakukan dengan sewajarnya. Dalam hal ini, penyebab
penyimpangan seksual bukan hanya karena kurangnya sikap dan pengertian orangtua
dan pergaulan bebas tetapi penyimpangan seksual yang terjadi, contohnya
seperti; Homoseksual atau penyimpanyang sexsual lainnya dapat juga diakibatkan
karena penyebab Genetik, pengalaman masa lalu sehingga anak sendiri sudah
memiliki ketertarikan dengan sesama jenis tanpa diketahui oleh orang tua. Untuk
itu , anak-anak harus diberikan pengetahuan tentang pendidikan seksual secara
dini dan juga harus dibimbing oleh orang tua tetapi orang tua juga harus dapat
menerima anaknya, jika memiliki gangguan kejiwaan dalam hubungan seksual.
Karena sebagian besar anak-anak yang mengalami penyimpangan seksual seperti;
Homoseksual dan lain-lain , mereka merasa takut untuk mengatakan kepada
orang-orang terdekat termasuk orang tua. Dalam melakukan penyembuhan
penyimpangan seksual yang dialami anak-anak, orang tua harus membimbing dan menjelaskan
pengetahuan serta resiko yang akan
terjadi akibat hubungan seksual yang tidak sewajarnya, seperti
penyakit-penyakit akibat berhubungan seksual sehingga anak-anak tidak mengalami
gangguan kejiwaan dalam hubungan seksual yang lebih lanjut dan anak-anak dapat
mengetahui resiko, apabila melakukan hubungan seksual yang belum sepantasnya
dilakukan oleh anak-anak.
I.
Saran
Penyimpangan seksual adalah aktivitas
seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan
tidak sewajarnya. Penyebab terjadinya penyimpangan seksual faktor sosial atau pergaulan merupakan faktor terbesar yang menjadi
penyebab homoseksual, sekali pernah merasakan hubungan seksual (seperti sodomi
misalnya), terus jadi ketularan walaupun tidak sepenuhnya gay, factor trauma
dan factor keturunan.
Dalam terjadinya penyimpangan seksual yang harus
dicegah atau dihindari sejak dini adalah
1. Sikap dan pengertian orangtua :
Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan terus
terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat tentang berhubungan sex dengan perubahan-perubahan fisiologik
seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dn fenomena sexual secunder lainnya.
2.
Pendidikan Sex : Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang
seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil yaitu memberikan penjelasan-penjelasan seksual yang
sederhana dan informative dan selanjutnya dapat dilakukan dengan
diskusi-diskusi yag lebih bebas dan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung
jawab dan menguasai bidangnya.
Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya ketika sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap seks.
Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya ketika sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap seks.
3.
Pengobatan
a. Farmakoterapi
b. Psikoterapi
c. Hypnoterapi
BAB III
PENUTUP